Cara Memakai Helm Saat Touring, Sport dan Racing Ternyata Berbeda Loh
Cari Berita

Advertisement

Cara Memakai Helm Saat Touring, Sport dan Racing Ternyata Berbeda Loh

Jundi Alfaruqi
Monday, 4 November 2019

Saat Kepala Kepolisian RI Hoegeng Imam Santoso mewajibkan penggunaan helm motor untuk pertama kali nya di Indonesia ternyata sempat mendapat penolakan yang keras pada waktu itu, lalu kemudian terbitlah undang-undang nomor 14 tahun 1992 yang mengatur tentang lalu lintas dan angkatan jalan.

BELL 500 adalah Helm motor pertama di dunia yang dibuat untuk masal dengan desain sangat sederhana yang terdiri atas rangka Outer Shell dan Busa EPS peredam benturan.

Baca Juga: Banyaknya Manfaat Memakai Balaclava

Lalu tak lama setelah itu, munculah perusahaan Snell Memorial Foundation pada 1957 sebagai tempat pengujian helm berkualitas tinggi.

Sejak saat itu helm terus berkembang hingga kini baik secara desain, kualitas, teknologi, fitur, spesifikasi dan harga. Helm tersedia dalam varian full face, half face, open face, dan flip up.

Full face adalah varian helm dengan perlindungan penuh. Jenis ini ada beberapa macam sesuai fungsinya, untuk balap, harian, sport atau touring.

Helm memiliki beberapa posisi yang berbeda ketika digunakan harian, touring, sport atau racing. Kenali cara memakai helm yang baik dan benar berikut ini.

Baca Juga: Ini 6 Hal yang Dipilih Saat Membeli Helm Baru

35 Derajat

posisi-sport-35-derajat
Gambar: agv.com

Pada saat helm dipakai untuk touring, posisi helm miring 35 derajat adalah posisi yang pas. Posisi ini juga ideal dipakai saat berkendara di dalam kota. Tidak membuat tekanan yang bisa menyebabkan leher pegal dan tentunya nyaman.

50 Derajat

posisi-sport-50-derajat
Gambar: agv.com

Posisi helm di kepala sangat mempengaruhi kenyamanan dan fokus penglihatan. Untuk posisi sport yang agak sedikit membuat badan membungkuk ke depan, memakai helm miring 50 derajat adalah posisi yang pas.

70 Derajat

posisi-racing-70-derajat
Gambar: agv.com

Helm sejatinya dibuat sesuai bentuk atau kontur kepala. Pada posisi racing, badan lebih membungkuk hingga menempel ke tangki motor.

Pada saat membungkuk di dalam fairing, posisi kepala akan menekuk leher kebelakang, jika memakai posisi 35 derajat bagian leher belakang helm akan beradu dengan pundak dan ini akan menggangu konsentrasi saat race.

Kecepatan motor juga dalam kondisi sangat tinggi yang dapat menyebabkan turbulensi udara pada helm. Pada saat ini posisi helm diturunkan menjadi 70 derajat agar sistem aerodinamis pada helm bisa bekerja lebih optimal.

Selain itu, posisi kepala yang berada di dalam fairing membutuhkan penglihatan yang pas dari segala sudut.

Baca Juga: HEMAT, Begini Cara Membuat Intercom Helm Sendiri